Egg Peritonitis pada Unggas

DokterHewan.Org – Saya menemukan kasus egg peritonitis pada unggas, dikenal juga dengan istilah egg yolk peritonitis. Berbeda, kasus ini memiliki gejala dan penampakan yang berbeda dari kasus-kasus serupa. Sebelum itu, saya akan mari kita pelajari dulu, apa itu egg peritonitis?

Apa itu egg peritonitis pada unggas?

Egg yolk peritonitis merupakan penyakit umum yang didiagnosa pada ayam penelur. Penyakit ini terjadi pada saat pembentukan telur atau pembentukan cangkang yang kurang sempurna atau ruptur-nya telur ke area bagian perut (peritoneum).1

Gambar 1. Ilustrasi Internal Ovulasi1

Nah, ketika adanya benda asing yang menyebabkan peritonitis tersebut, bagian dari telur itu akan diinfeksi oleh bakteri (paling umum jenis E. coli). Bakteri-bakteri ini akan menyebabkan infeksi sekunder, kemudian menyebar melalui pembuluh darah, menyebabkan kerusakan pada organ-organ vital seperti ginjal, hati dan jantung. Hal inilah yang membuat penyakit ini dapat menyebabkan kematian pada unggas jika tidak tertangani dengan baik.

Apa yang menyebabkan egg yolk peritonitis?

Gangguan ini terjadi karena ketidak-normalan proses pembentukan telur pada unggas atau gejala sekunder dari gangguan sistem reproduksi antara lain: peradangan saluran oviduct (salpingitis), efek samping dari pembentukan telur yang berlebihan (multiple abnormally formed eggs), kista ovarium atau kanker, serta saluran reproduksi yang terpelintir sehingga menghambat saluran produksi telur.1

Dr. Rodrigo A. Espinosa dalam MSD Veterinary Manual mengatakan bahwa pemberian makanan berlebihan pada ayam pada masa pematangan seksual (sexual maturation) dapat meningkatkan jumlah folikel kuning ovarium dan berukuran lebih besar dari normalnya. Kondisi folikel yang banyak dan besar ini dikenal dengan istilah erratic oviposition and defective egg syndrome (EODES). Hal ini akan menyebabkan tingginya kemungkinan terjadinya kuning telur ganda, prolaps oviduct, ovulasi internal (Gambar 1) yang menyebabkan egg peritonitis dan kematian.2

Apa gejala egg peritonitis?

Gejala paling umum dijumpai yaitu hewan tidak nafsu makan, kurus, tulang dada terlihat jelas, pembesaran (abnormalitas) pada bagian perut karena tumpukan kuning telur, dan hal ini terkadang menyebabkan berat badan seolah-olah normal.3

VCA animal hospital menambahkan bahwa gejala dari egg peritonitis yaitu unggas berhenti bertelur atau memiliki cangkang tipis atau cangkang telur yang tidak beraturan. Unggas kurang aktif, lebih memilih banyak tidur di sangkarnya dibandingkan berjalan, serta mereka akan makan lebih sedikit dari normalnya. Selain itu, karena adanya cairan di rongga perut, mereka terlihat susah bernafas (seperti sesak nafas).1

Pada tingkat peternakan, egg peritonitis akan menyebabkan kerugian karena menyebabkan penurunan produksi dan kematian yang tinggi. Jika tidak didiagnosa dengan baik, penyakit ini terlihat seperti penyakit menular pada unggas.4

Bagaimana cara mendiagnosa egg peritonitis?

Unggas yang menunjukkan gejala seperti di atas, harus dilakukan pemeriksaan berkelanjutan oleh dokter hewan. Umumnya kami akan melakukan pemeriksaan fisik lengkap dan melakukan palpasi pada bagian tubuh unggas, terutama pada bagian rongga perut. Kami akan meraba untuk merasakan apakah rongga perut memiliki akumulasi cairan atau telur yang bercangkang tipis di rongga perut.

Pada unggas yang dipelihara dengan tujuan hewan kesayangan, dokter hewan akan melakukan beberapa tes yaitu pemeriksaan darah lengkap, coelomocentesis (pengambilan cairan dari rongga perut), serta x-ray dan usg jika diperlukan.

Pada tingkat peternak, umumnya unggas akan disembelih dan atau dilakukan bendah bangkai (jika sudah mati). Pada saat pembedahan, akan terlihat kerusakan organ yang terjadi, selanjutnya akan dilakukan pengobatan dan pencegahan untuk unggas lain di dalam kandang tersebut.

Bagaimana cara pengobatan egg peritonitis?

Egg peritonitis memiliki beberapa opsi pengobatan, tergantung keparahan dan jenis pemeliharaannya. Jika unggas dipelihara untuk tujuan hewan kesayangan, tindakan steril atau spaying (operasi pengangkatan oviduct) dapat dilakukan. Selain itu, pemberian hormon untuk menurunkan ovulasi sedikit banyak akan membantu.3

Pada tingkat peternakan, hewan yang mati akan dilakukan pemeriksaan bangkai untuk melihat seberapa jauh hewan terdampak. Jikalau angka kematian sangat tinggi dan produksi jauh di bawah standard serta menyebabkan kerugian besar. Hewan akan disemblih dini untuk mengurangi kerugian.

Keunikan kasus yang saya tangani (Opini pribadi yang belum terkonfirmasi)

Saya mendapatkan sampel unggas untuk dilakukan pemeriksaan bedah bangkai. Pemeriksaan fisik hewan terlihat kurus yang ditunjukkan tulang dada yang sangat menonjol. Area anus terlihat kotor. Pada saat dibuka, rongga oviduct terlihat membesar, ovarium dipenuhi oleh banyak kuning telur yang banyak dan besar. Namun anehnya pada rongga peritoneum tidak dijumpai adanya kuning telur disana.

Rongga peritoneum terlihat inflamasi dan tidak ditemukan adanya konten telur. Kemudian bagian oviduct yang bengkak saya bedah kemudian terlihat adanya telur dengan ukuran kuning telur dan albumin yang besar dari telur normalnya. Saya kemudian langsung meminta opini dari kolega yang ahli di bidang perunggasan.

Dua orang kolega sependapat bahwa ayam yang saya lakukan bedah bangkai ini mengalami kondisi egg peritonitis. Ada dan tidak adanya konten telur di area rongga abdomen tidak terlalu penting. Namun, peradangan di area peritonitis dan gangguan pada saluran telur saja sudah cukup untuk menjadi indikator untuk penyakit ini.

Namun, kedua ahli perunggasan ini juga menyampaikan tambahannya berupa kemungkinan adanya infeksi bakteri dalam bangkai ayam ini. Egg peritonitis dapat mengawali infeksi bakteri dan atau egg peritonitis bisa disebabkan oleh infeksi bakteri juga. Beliau menyarankan saya untuk mencari referensi tentang colisepticemia, yaitu infeksi yang disebabkan oleh bakteri E.coli.

Organ-organ vital dari ayam ini akhirnya saya kirimkan untuk pemeriksaan bakteriologi. Saya mengirimkan organ jantung, hati, dan ginjal untuk mendeteksi ada atau tidaknya bakteri E.coli dalam organ tersebut.

Hasil yang akan saya laporkan tergantung dengan hasil laboratorium. Jika bakteri yang diujikan positif disetiap organ, besar kemungkinan penyebab kematian adalah infeksi bakteri yang menyebabkan kegagalan fungsi organ vital sehingga menyebabkan kematian. Tentunya, kesimpulan ini harus dianalisa dari faktor-faktor lainnya, antara lain: mortality rate, dan pemeriksaan laboratorium lainnya.

Apakah kamu punya pendapat lain?

Referensi

  1. What is egg yolk peritonitis? ↩︎
  2. Egg Peritonitis in Poultry (Egg Yolk Peritonitis) ↩︎
  3. The advice hub: egg peritonitis ↩︎
  4. Bacteriological and pathological studies of egg peritonitis in commerciallayer chicken in Namakkal area ↩︎

Posted

in

,

by

Comments

Leave a comment